Membangun Kemandirian Petani dan Peternak Indonesia

Posts tagged ‘kompos’

Pelatihan Pengomposan Enceng Gondok Bersama SOLAGRI 2


Eceng1

Suasana pemaparan materi oleh Kabelan Kunia dalam kegiatan pelatihan pengomposan Enceng gondok di Desa Cimerang

Cara Pengomposan Eceng Gondok ala SOLAGRI 2

Bahan-bahan :

  1. 1000 Kg tanaman Eceng gondok (Dengan cara dicincang atau juga digiling hingga halus, ‘untuk hasil pupuk yang halus’)
  2. Kotoan hewan 200 Kg (jika ada)
  3. 3 – 5 botol SOLAGRI 2
  4. 2 Buah Pagar bambu berukuran Panjang 1 Meter, Tinggi 1½ Meter
  5. 2 Buah Pagar bambu berukuran Panjang 2 Meter, Tinggi 1½ Meter

Alat :

  1. Golok / mesin pencacah
  2. Pacul, garpu dan sekop

Cara Pembuatan

  1. Rangkai pagar bambu berbentuk ‘kandang’ berukuran 1x2x1½ Meter sebagai tempat pembuatan kompos
  2. Masukkan eceng gondok yang sudah dicampur dengan kotoran hewan jika ada.
  3. Lakukan pemadatan dengan cara menginjak-injak tumpukan hingga setinggi ±20 Cm
  4. Siramkan suspensi SOLAGRI 2 secara merata di atas tumpukan
  5. Masukkan kembali eceng gondok dan campuran kotoran hewan
  6. Lakukan pemadatan dengan cara menginjak-injak tumpukan hingga timbunan bertambah tinggi ±20 Cm
  7. Taburkan kembali suspensi SOLAGRI 2 secara merata di atas tumpukan
  8. Ulangi cara di atas sampai timbunan eceng gondok setinggi 60 – 1½ Meter
  9. Tutup timbunan dengan plastik
  10. Pada hari ke dua, suhu timbunan akan mulai meningkat sampai 70 – 80° C
  11. Proses pembuatan kompos pupuk selesai setelah 14 hari dan suhu telah turun menjadi ± 30° celcius.

Catatan

  1. Pagar bambu yang menjadi ‘cetakan’ dapat dilepaskan pada saat proses penutupan timbunan dengan plastik untuk digunakan pada pembuatan timbunan berikutnya (jika material eceng gondok lebih dari 1 ton).
  2. Proses pelapukan dilakukan oleh mikroba Thermofilik aerob (dapat bertahan hidup pada suhu 80° C) yang memerlukan sedikit oksigen
  3. Penutupan plastik pada material bertujuan untuk menciptakan temperatur ‘tinggi’ yang diperlukan untuk mempercepat proses pelapukan.
  4. Sebaiknya buatkan naungan tumpukan, agar terhindar dari sinar matahari langsung atau curah hujan. Naungan boleh berbentuk saung atau ditutupi rapi dengan lembaran plastik.
  5. Setiap periode 4 – 5 hari tumpukan diaduk merata, eceng gondok yang lebih segar dikubur ditengah tumpukan, kemudian tumpukan dirapikan dan ditutup kembali.
  6. Setelah 2 – 3 minggu kompos telah jadi dan beberapa hari kemudian telah siap digunakan untuk pemupukan tanaman.
  7. Kompos dapat dikatakan telah jadi dengan baik, apabila warna kompos mulai hitam atau benar-benar hitam, kadar air rendah (dapat diketahui dengan apabila kompos digenggam dan dibuka, maka kompos tidak menggumpal), tidak berbau, dan sudah tidak panas lagi.
100_2533

Proses pemotongan Eceng Gondok oleh peserta pelatihan pengomposan Enceng gondok di Desa Cimerang

100_2542

Proses pencampuran biang mikroba aktif SOLAGRI 2 oleh peserta pelatihan pengomposan Enceng gondok di Desa Cimerang 

100_2551

Proses penyiraman mikroba aktif SOLAGRI 2 ke bahan kompos Eceng Gondok oleh peserta pelatihan

100_2553

Proses penyimpanan (fermentasi) bahan kompos Eceng Gondok oleh peserta pelatihan pengomposan (Foto : Kabelan Kunia/ 2013)

Sukses Budidaya Stroberi dengan SOLAGRI 1


SOLAGRI 1 membuat buah Stroberi lebih besar, merah menyala, tahan lama dan rasanya maknyusss…

Stroberi bisa tumbuh menjadi lebih subur, sehat dan produktivitas meningkat. Tanaman Stroberi memiliki persyaratan tumbuh dan pemeliharaan yang sangat spesifik dan rumit. Pertama dan terpenting adalah bahwa Stroberi tidak mampu bersaing dengan gulma yang seringkali tumbuh lebih subur.

Kedua adalah bahwa, dalam rangka untuk tumbuh subur dan sehat, mereka membutuhkan cukup air dan nutrisi serta drainase yang sangat baik. Kebutuhan yang tinggi akan air  diperparah oleh sistem perakaran dangkal yang dapat mudah mengering ketika kekurangan air.

Ketiga adalah bahwa sementara stroberi membutuhkan banyak air, kelembaban juga sangat penting. Namun sebaliknya banyaknya air juga dapat menyebabkan buah mudah membusuk, demikian juga ketika buah menyentuh tanah.

Keempat adalah bahwa buah merah ini paling lezat dinikmati ketika sepenuhnya matang di batang. Sayangnya, ini juga banyak mengundang hama burung yang datang dan menggasak buah stroberi sampai tuntas…tas…. Akhirnya petani cuma bisa gigit jari!

Kondisi ini mungkin tampak sia-sia, tetapi ada beberapa solusi sederhana. Stroberi tampaknya tumbuh lebih baik di bedeng atau dalam wadah, seperti karung atau drum. Karung-karung ini selanjutnya diisi dengan  kompos yang berkualitas dari SOLAGRI 2.

Campuran kompos dan tanah lapisan atas diisi dalam setiap pot selanjutnya ditanam bibit-bibit stroberi berkualitas.  Setiap pot ditanam dua baris stroberi dengan jarak sekitar 8 inci.

Sebagai upaya memelihara kesuburan dan merangsang pertumbuhan bunga dan buah yang lebih banyak, penggunaan pupuk hayati SOLAGRI 1 secara rutin harus dilakukan. Penyiraman pupuk yang mengandung mikroba unggul ini dapat dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali.

Aplikasi SOLAGRI 1 secara rutin dan teratur terbukti meningkatkan kesuburan tanaman stroberi, buah lebih besar, warna merah menyala dan rasanya pasti lebih maknyusss…..!

Aplikasi SOLAGRI 1 yang sukses pada tanaman Stroberi bersama Kang Hazar dkk.

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.