Aplikasi Pupuk Bio-Mikroba Berbuah Lebat


20160906_102223.jpg

Ibu Pekebun yang sedang mengaplikasikan pupuk berbasis Bio-Mikroba HARAMAX di pokok tanaman Kelapa Sawit pada Kebun PT. Wanasari – Riau (06 September 2016)

(Riau, 06 September 2016). Hari ini di kebun Kelapa Sawit di Riau, bersama tim dan pegawai kebun, menyaksikan secara langsung penerapan pemupukan jenis pupuk terbaru yang berbasis Bio-Mikroba HARAMAX. Aplikasi perdana ini mendapat sambutan dan antusiasme dari pemelik kebun dan pekerja.

Mulai pagi hari, setelah apel pagi jam 06.00 WIB, kami mulai bergerak ke lokasi. Sesampai di kebun, pekerja sdah sip dengan pupuk dan semua peralatannya. Sangat ringkas dan praktis sekali dalam aplikasi pupuk ini. Cukup ditaburi dengan dosis 1 kg per pokok tanaman. Pemupukan dilakukan oleh ibi-ibu dengan menabur di sekeliling pokok tanaman Kelapa Sawit.

20160906_101921.jpg

Tanaman Kelapa Sawit berumur kurang dari 3 Tahun setelah aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba sudah mebuahkan hasil yang maksimal.

Tanaman Kelapa Sawit di perusahaan ini, sudah berbuah lebat kurang dari 3 tahun. setelah aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba. Aplikasi NPK Hi-Grade 5 Kg/pokok/tahun terbukti mampu mempercepat produksi buah pada tanaman Kelapa Sawit.

Diharapkan dengan aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba kali ini, akan mampu menggenjot produksi dan kandungan minyak buah Sawit. Ongkos pemupukan yang bisa diefisiensikan, nyatanya berbanding positif terhadap peningkatan produksi. Harapannya semakin banyak petani plasma di lingkungan dan binaan perusahaan yang mengadopsi teknologi pemupukan ini, sehingga petani plasma juga bisa merasakan peningkatan produksi yang signifikan, semoga (kabelankunia@gmail.com)

Pupuk Berbasis Bio dan Mikroba di Kelapa Sawit


20160906_101729(0).jpg

(Riau, 06 September 2016). Aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba  pada tananan Kelapa Sawit di Pekanbaru, Riau. Menaburi pupuk jenis ini pada pokok tanaman sawit akan memberikan manfaat yang luar biasa pada tanah di sekitar kebun. pupuk yang berbahan baku organik murni dan Mikroba unggul akan mampu menambah suplai bahan organik yang sangat dibutuhkan tanah yang miskin di kebun. Mikroba pada pupuk akan mampu memberikan suplai nutrisi yang berimbang untuk tanaman kelapa sawit.

Aplikasi pupuk berbasis bio-Mikroba ini akan merangsang pertumbuhan sekaligus mampu meningkatkan produkstifitas buah. Rendemen buah akan menjadi tujuan yang tidak kalah pentingnya. Terbukti dalam penerapa semua pupuk berbasi mikroba selama ini yang selalu diterapkan di kebun perusahaan, terbukti mampu meningkatkan rendemen minyak dalam buah Sawit.

Efisiensi biaya aplikai pupuk sudah barang tentu menjadi konsen perusahaan. Dengan pemberian pupuk NPK Hi-Grade yang hany dengan dosis 5 kg per batang per tahaun ditambah aplikasi pupuk HARAMAX dengan dosis 2 kg per pohon per tahun, akan sangat mempengaruhi efisiensi biaya pemupukan sekaligus meningkatkan produktifitas yang siginifikan dari waktu ke waktu, Selamat….!!!

NATURA Meta: Biopestisida Penghalau Oryctes


Komposisi

  • Jamur entomopatogenik Metarhizium anisopliae

Manfaat

  • Pengendali hama :
    1. Oryctes rhinoceros            :  Kelapa Sawit dan Kelapa
    2. Dorysthenes                       :  Boktor Tebu
    3. Xytrocera festiva               :  Boktor Sengon
    4. Belalang dan Wereng

Mekanisme Infeksi

Jamur Matarhizium anisopliae yang dikandung NATURA Meta masuk ke tubuh serangga melalui spirakel dan pori-pori atau kutikula dari tubuh serangga. Setelah masuk ke dalam tubuh serangga, jamur menghasilkan perpanjangan hifa lateral yang akhirnya berkembang biak dan mengkonsumsi organ internal serangga.

Pertumbuhan hifa berlanjut sampai serangga tersebut ditumbuhi dengan miselia. Selanjutnya jamur akan beristirahat melalui kutikula dan sporulates, yang membuat serangga tampak seperti diselimuti bulu halus berwarna putih.

Jamur Metarhizium anisopliae dalam NATURA Meta dapat melepaskan spora (konidia) pada kondisi kelembaban rendah (<50%). Selain itu, jamur tersebut memperoleh nutrisi dari lemak pada kutikula serangga.

Jamur ini juga dapat menghasilkan metabolit sekunder seperti destruxin, yang mempunyai sifat insektisida pada serangga. Zat metabolit sekunder dari fungi inilah yang berperan sebagai pembasmi hama serangga pengganggu.

Petunjuk Penggunaan

  • Taburkan pada tumpukan Tankos (20 – 50 Gram/ M2) di kebun Kelapa Sawit.
  • Campurkan dan suspensikan dengan air limbah PKS, fermentasikan selama semalam. Selanjutnya aplikasikan ke lahan kebun (1 Liter/ M2).
  • Lakukan aplikasi setiap 6 bulan sekali.

Aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba pada Kelapa Sawit


(Riau, 06 September 2016). Betapa bahagianya kami, pemiliki kebun dan terutama pekerja, saat tim kami berada di kebun. Tujuan kami ke kebun kali ini adalah untuk mensosialisasikan cara aplikasi pupuk berbasis Bio-Mikroba pada tanaman Kelapa Sawit pada usia tanam kurang dari 3 tahun.

Antusiasme pekerja di kebun sangat mebanggakan kami. Banyak hal yang bisa disharingkan melalui aplikasi pupuk ini. Beberapa permasalahan juga sempat didiskusikan, terutama tentang serangan hama kumbang Oryctes pada daun-daun tanaman Sawit pada umur-umur awal tanam hasil re-planting.

Solusi yang coba ditawarkan adalah aplikasi jamur entomopatogen Metarhizium anisopleae. Nantinya jamur ini diaplikasi dengan cara terlebih dahulu mensuspensikannnya dengan limbah cair pabrik kelapa sawit yang jumlahnya sangat berlimpah di kebun. Manajer kebun dan manajer perusahaan menyambut baik solusi yang ditawarkan. Semoga penerapan pupuk berbasis Bio-Mikroba dan aplikasi jamur Metarhizium nantinya mampu menunjang peningkatan produksi sekaligus meningkatkan kesehatan tanaman kelapa Sawit di kebun. Semoga sukses untuk untuk semua…. (kabelankunia@gmail.com/081322060711)

Padi kian Melambai


20160214_095920.jpg

Padi-padi hijau membentang di hamparan sawah yang tidak begitu luas di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pemilik sawah adalah petani yang sangat tekun dan mempunyai semangat belajar serta ingin mencoba sesuatu yang baru, beliau adalah Bapak Lalu Tanwir. Saat ini lahan sawah beliau menjadi percontohan Dinas Pertanian setempat dalam pelaksanaan budidaya padi organik sistem SRI dengan aplikasi pupuk berbasis mikroba unggulan NATURA.

Lahan sawah pak Lalu Tanwir sudah mengaplikasikan pupuk hayati NATURA dengan metode budidaya SRI sejak 3 tahun yang lalu. Peningkatan produksi dari musim tanam awal sampai sekarang semakin dirasakan beliau. Alhasil beras hasil panen sawah beliau pun sangat ditunggu-tunggu konsumen fanatik di wilayah Mataram bahkan sampai ke Pulau Dewata, Bali dan Jawa.

 

Sapi-sapi yang Sehat


IMG-20160430-WA0010.jpg

Sejak aplikasi enzim NATURA pada pakan harian dan hijauan, sapi-sapi di kandang pada senang dan bahagia terus kelihatannya.

Kebahagiaan sapi terlihat dari nafsu makan yang meningkat, pertambahan bobot yang kencang dan lebih aktif di kandang. Saya membayangkan kalau sapi-sapi ini dilepas di alam bebas dengan rumput-rumput hijau membentang, betapa bahagianya mereka pastinya.

Aplikasi enzim NATURA pada pakan konsentrat, memberikan respon yang sangat positif untuk meningkatkan kesehatan dan bobot sapi peliharaan. Sesekali enzim NATURA ditambahkan dalam air minum dan dicipratkan ke hijauan yang diberikan setiap hari. Ketika enzim ini masuk ke dalam perut sapi, maka akan membantu penyerapan maksimal terhadap sumber makanan yang makin mudah terserap oleh tubuh, sehingga pembentukan daging makin terpacu dan kesehatan cerna sapi makin paripurna.

Kebahagiaan sapi merupakan kebahagiaan peternak juga. Sapi yang makin meningkat signifikan setiap harinya dan dengan kesehatan yang jauh lebih baik, maka memberikan harapan baru untuk peternak sapi potong. Melimpahnya daging sapi yang sehat di pasaran, otomatis akan menjangkau harga untuk semua kalangan pengkonsumsi daging hewani. Rasanya pemerintah sudah tidak perlu bersusah payah untuk impor daging beku atau daging kerbau dari luar. Kecukupan daging lokal sudah lebih memadai dalam memenuhi permintaan konsumsi rakyat Indonesia.

Harapan besar ini tentunya merupakan kabar gembira bagi peternak dan rakyat Indonesia. Enzim NATURA akan selalu mendukung dan membantu peternak untuk keluar dari semua masalah klasik dalam budidayanya, semoga….. (NATURA enzim)

NATURA Aquakultur ; Lele Cepat Panen, Air Kolam Bersih dan Baunya Bablas


Lele BambangKudus1

Panen Lele di Kolam milik LelevanJava (Sumber: http://www.facebook.com/lelevanjava)

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan sms bertubi-tubi dari calon pembeli dan pemakai dari Kudus. Beliau akan mengaplikasikan produk NATURA Aquakultur untuk peternakan lele. Akhirnya sms saya jawab dan telponnya saya terima. Menurut beliau, dia mendapatkan info produk NATURA dari searching di internet. Menurutnya, ada produk baru yang berbasis enzim. Beliau tertarik mau mencoba.

Setelah bicara panjang lebar, akhirnya beliau order 2 botol terlebih dahulu untuk mencoba sambil mempelajari produk NATURA. Akhirnya kami kirim 3 botol untuk beliau supaya ujicoba dan penasaran beliau terjawab.

Tidak menunggu lama, 2 hari kemudian beliau bertubi-tubi lagi mengirim sms ke kami. Sampai hari ini beliau sangat rajin mengirimkan hasil ujicobanya ke kami melalui sms. berikut ini adalah beberapa sms beliau, yang kami tulis sesuai dengan apa yang beliau kirimkan. Semoga menginspirasi buat kita semua yang beternak lele. Saya sendiri sangat respek dan banyak belajar juga ke beliau yang dengan antusias melakukan ujicoba sendiri terhadap produk NATURA.

“Alhamdulillah pelet makin irit dengan tambah enzim NATURA dan aplikasi Pupuk Hayati NATURA.” Beliau terobsesi ingin kolam terpal bisa memiliki kualitas seperti kolam tanah yang lebih alami. Setelah berdiskusi dengan kami, akhirnya kami kirimkan NATURA Pupuk Hayati. (SMS tanggal 22 April 2016).

“Air kolam makin subur planktonnya setelah pake NATURA Pupuk Hayati sekaligus. Lele maunya makan cuma di malam hari saja, di pagi hari rada malas makannya pa… Tapi anehnya lele senang di dalam air, tidak mau muncul. Begitupun malam hari, lele pada tidur pules dalam air. Sepertinya sangat nyaman dalam air setelah perutnya kenyang. Pantes kalo lele cepet gemuk….” (SMS tanggal 22 April 2016).

“Joozz gandoz pa, mantab tenan NATURA Aquakultur sekarang…..Sudah bisa hilangkan bau amoniak dalam hitungan detik.” (SMS tanggal 24 April 2016).

“Terima kasih pa, sekarang peternak makin makmur dan nyaman, enjoy….karena cukup dengan single power enzim NATURA Aquakultur sudah bisa segalanya. Satu untuk semuanya. Tidak perlu tambah atau beli produk yang lain untuk mengatasi bau air kolam. Nah, yang paling luar biasa adalah pertumbuhan makin pesat dengan enzim aquakultur merek NATURA.” (SMS tanggal 24 April 2016).

“Sekarang saya coba lagi menggunakan pakan ayam tiren. Setelah 2 hari aplikasi, kualitas air kolam tanpa drop, stabil dan air kolam tidak bau apapun. Hebatnya lagi air makin kinclong, mengkilap dan jernih….Betul-betul luar biasa produk NATURA ini.” (SMS tanggal 04 Mei 2016).

Ok, nanti kami akan kirim terus hasil pandangan mata ujicoba pa Bambang di Kudus. Semoga menginspirasi dan menjadi pelajaran untuk peternak lele yang lain, terutama sangat bermanfaat untuk kami sebagai produsen NATURA Enzim Aquakultur. Terima kasih Pa Bambang. Salam sukses pa. (Kabelan Kunia/NATURA)

Strategi Pemupukan Kelapa Sawit di Masa Kekeringan


Oleh Kabelan Kunia

 Artikel ini sudah dimuat pada MAJALAH SAWIT INDONESIA, Edisi khusus IPOC Bali, November 2015
20160906_110322.jpgKemarau panjang tahun ini memberi dampak yang luas bagi pekebun kelapa Sawit. Di hantam dengan menurunnya harga jual buah sawit, membuat kesulitan pekebun semakin meningkat. Alhasil pemupukan yang seyogyanya dilakukan dua kali setahun, terancam urung dilakukan saat ini.

Disamping karena kondisi keuangan perkebun yang lagi tidak nyaman, kekeringan yang melanda lahan Kelapa Sawit membuat pekebun menunda pemupukan karena penyerapan tanah terhadap pupuk pasti jauh bekurang.

Bahan Organik Bermutu

Bahan organik sangat berperan penting untuk menjaga dan sekaligus meningkatkn kesuburan tanah kendati di musim kering sekalipun. Tanah yang mengandung bahan organik yang tinggi relatif aman ketika dilanda kekeringan yang panjang seperti saat ini. Bahan organik mampu menahan air dan manjaga kelembaban tnah.oleh karenanya aplikasi pupuk yang menagandung bahan organim yang tinggi menjadi piphan yang tepat di saat kekeringan seperti ini.

Tidak banyak pupuk di pasaran yang mengandung bahan organik berkualitas dengan hormon alami, asam amino dan mikroba unggul termasuk mikoriza. HARAMAX adalah produk pupuk berbasis organik plus mikroba unggul yang tepat diaplikasikan di kebun kelapa sawit di saat musim kemarau. Tingkat penyerapan yan tinggi dan dengan harga yang terjangkau, tidak menghalangi pekebun untuk melakukan pemupukan rutin untuk menjaga tingkat produktivtas kelapa sawit kian tejaga.

Pemanfaatan Pupuk yang Mengandung Mikoriza

Ada jenis mikroba dari golongan jamur yang disebut mikoriza ditemukan sebagai sumber biofertilizer potensial yang dapat meningkatkan produktivitas budidaya tanaman. Pupuk hayati yang mengandung Mikoriza bersifat ramah lingkungan dan dapat mempertahankan kualitas tanah secara berkelanjutan.

Mikoriza mempunyai peran dalam mempercepat suksesi pada habitat yang terganggu secara ekstrem, termasuk kekeringan dan tanah kekurangan air. Mikoriza yang menginfeksi akar tanaman berperan dalam perbaikan nutrisi tanaman dan meningkatkan pertumbuhan, karena hifa yang menginfeksi akar mempunyai kemampuan yang tinggi dalam meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara fosfat, nitrogen, sulfur, seng, dan unsur esensial lainnya.

Dengan adanya mikoriza, laju penyerapan unsur hara oleh akar bertambah hampir empat kali lipat dibandingkan dengan perakaran normal, demikian juga luas penyerapan akar makin bertambah hingga 80 kali.

Tanaman yang diaplikasikan dengan mikoriza dapat menyerap pupuk fosfat lebih tinggi hingga 10-27 persen dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian bahkan dapat menghemat penggunaan pupuk nitrogen hingga 50 persen, pupuk fosfat sebesar 27 persen dan pupuk kalium mencapai 20 persen.

Manfaat lainnya yaitu akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar seperti Ganoderma pada Kelapa Sawit. Ini dimungkinkan karena lapisan mantel (jaringan hifa Mikoriza) menyelimuti akar tanaman, sehingga seolah melindungi akar. Di samping itu, beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri, virus, jamur yang bersifat patogen.

Jamur super ini berperan terutama dalam memperbaiki struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polisakarida yang dihasilkannya. Karena bukan bahan kimia pupuk ini aman bagi lingkungan.

Sedikitnya ada lima hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini, yaitu mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah, mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembapan yang ekstrem, meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin, serta menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.

Adanya mikoriza, resistensi akar terhadap gerakan air menurun, sehingga transfer air ke akar meningkat. Keberadaan mikoriza menyebabkan status P tanaman meningkat, sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.

Adanya hifa eksternal menyebabkan tanaman bermikoriza lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak bermikoriza. Tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam lebih cepat menurun. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Pada tanaman bermikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit daripada tanaman yang tidak bermikoriza.

Mikoriza Mencegah Kekeringan

Tanaman mikoriza lebih tahan terhadap kekeringan karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Pengaruh tidak langsung karena adanya miselin eksternal menyebabkan mikoriza efektif dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat. Aplikasi mikoriza akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah, sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun.

Suhu yang relatif tinggi dapat meningkatkan aktivitas mikoriza. Pada daerah tropika basah seperti Indonesia, hal ini menguntungkan. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung jenisnya. Pada umumnya infeksi oleh cendawan mikoriza meningkat dengan naiknya suhu. Suhu yang tinggi pada siang hari (35°C) tidak menghambat perkembangan dan aktivitas fisiologis mikoriza. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu di atas 40°C. Jadi, suhu bukan merupakan faktor pembatas utama dari aktivitas mikoriza. Justru sebaliknya, suhu yang sangat tinggi akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (kabelankunia@gmail.com)

20160906_110110

Pupuk Kombinasi Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit


100_3285

Pekebun sedang menyemprotkan pupuk NATURA ke pembibitan

 Oleh : Kabelan Kunia

Artikel ini sudah dimuat di Majalah SAWIT INDONESIA Edisi Khusus November 2015 

Lebih dari 60% lahan perkebunan di pulau Sumatera telah mengalami degradasi kesuburan tanah (fisika, kimia dan biologi) yang diindikasikan oleh rendahnya kandungan bahan organik (di bawah 1%). Dampak dari rendahnya kandungan bahan organik ini antara lain tanah menjadi keras dan liat sehingga sulit diolah, respon terhadap pemupukan rendah, tidak responsif terhadap unsur hara tertentu, tanah menjadi masam, penggunaan air irigasi menjadi tidak efisien, meningkatnya patogen tanah seperti Ganoderma, serta produktivitas tanaman perkebunan cenderung rendah dan semakin sulit untuk ditingkatkan.

Hal ini disebabkan cara-cara pengelolaan lahan perkebunan yang kurang tepat, sehingga tanah semakin tandus sementara pemberian pupuk buatan yang terus menerus yang mengakibatkan lahan menjadi miskin akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta memburuknya sifat fisik lahan.

Bahan kimia kini sudah over digunakan untuk keperluan perkebunan, sehingga kondisi tanah yang digunakan kebun Kelapa Sawit tidak bertambah subur, tapi malah sebaliknya, tandus dan gersang. Akumulasi racun kimia saat ini sudah mengancam kelangsungan hidup mahluk di dalam dan permukaan tanah perkebunan. Tak hanya manusia saja yang kena imbasnya, tapi makhluk hidup yang lain juga kena getahnya.

Berdasarkan hal tersebut makin berkembang alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan secara perlahan menambahkan unsur-unsur organik dan mikroba menguntungkan ke lahan-lahan perkebunan dan pertanian agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi dan krisis pangan. Upaya pembudidayaan tanaman perkebunan dengan pola organik merupakan usaha guna mendapatkan bahan pangan tanpa unsur kimia berlebihan, ramah lingkungan dan sehat tentunya.

Hasil uji coba pupuk kimia dan pupuk organik, ternyata manfaatnya lebih banyak dihasilkan pupuk organik. Biaya produksinya lebih murah, penggunaanmya lebih sederhana, harganya pun terjangkau dan lebih penting dampaknya lebih berjangka panjang. Hal yang terpenting, pupuk organik dan hayati mampu menjaga keberadaan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi keseimbangan yang diharapkan.

 

Meningkatkan Aktivitas Mikroorganisme Tanah

Pupuk hayati biasanya mengandung mikroba ‘baik’ yang dapat mendegradasi bahan organik sehingga mampu menyediakan unsur hara yang dapat diserap tanaman dan menghasilkan enzim alami dan vitamin yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Pupuk hayati yang baik harus mengandung mikroorganisme lokal (indegenous) unggul. Setiap aplikasi pupuk hayati  akan meningkatkan populasi dan aktivitas mikroba  dalam tanah. Mikroba aktif yang terkandung dalam pupuk hayati seperti Azotobacter dan Azospirillum merupakan mikroba penting yang berfungsi menambat Nitrogen (N) bebas dari udara dan menghasilkan hormon tumbuh alami serta mampu menghasilkan asam amino; Bacillus yang merupakan bakteri yang memiliki fungsi melarutkan Phosphat (P) dan Kalium (K) dari ikatan koloid tanah, mengurai residu kimia dan mengikat logam berat; Lactobacillus, berperan menguraikan materi organik dan menyediakan hara mineral;  Aspergillus, merupakan jamur yang dapat mengikat Phosphat dan menghasilkan enzim, serta beberapa mikroba penting dalam menghasilkan asam amino, enzim alami dan vitamin serta menghasilkan zat patogen sebagai pestisida hayati seperti jamur Trichoderma dan Mikoriza.

Mikroba yang ditambahkan dalam tanah dapat membantu proses penggemburan tanah dan mengubah zat dan materi organik menjadi bentuk yang dapat diserap oleh tanaman. Penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan simbiosis mutualisme antara tanaman dan mikroorganisme yang menguntungkan. Semakin sering mengaplikasikan pupuk hayati  ke tanah menyebabkan tanah makin subur dan menyebabkan pemupukan menjadi hemat.

Pupuk terbaik semacam ini sudah banyak di pasaran dengan kemasan yang baik dan formulasi yang lengkap. Beberapa produk pupuk seperti Bioenzim dan Natura sudah mengandung formulasi mikroba aktif yang terbaik untuk meningkatkan kandungan mikroba unggul dalam tanah.

Bahkan sudah dikembangkan pupuk kombinasi kimia dan biologis yang berimbang dan unggul. Berdasarkan uji laboratorium Bioteknologi ITB, formulasi pupuk yang dikembangkan PT. Satya Agrindo Perkasa, yaitu NPK Hi-Grade plus OBH dengan penerapan teknologi produksi yang modern terbukti terbukti sudah menggabungkan nutrisi makro NPK yang berimbang dengan mikroba-mikroba terbaik untuk meningkatkan kesuburan dan keefektifan penyerapan nutrisi untuk tanaman, sehingga mampu meningkatkan produktivitas perkebunan secara bertahap.

Alhasil pupuk yang mengkombinasikan nutrisi berimbang  dan mikroba aktif akan menyebabkan tanah menjadi gembur. Tanah yang gembur akan memiliki pori-pori lebih banyak guna mensuplai nutrisi dan menyimpan air tanah untuk kebutuhan tanaman. Bahkan  saat musim kemarau sekalipun, tanah mampu menyediakan air. Sementara pada musim hujan, tanah bahkan mampu menahan air, sehingga resiko erosi dan banjir dapat dieliminir.

 

Meningkatkan Daya Tahan Tanaman

Pada dasarnya prinsip pengendalian hama dan penyakit dalam sistem pertanian organik adalah keterpaduan yang lebih menekankan aspek keseimbangan alam. Ketika agroekosistem berhasil dikelola secara seimbang, maka ongkos pengendalian menjadi lebih murah. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida kimia yang hanya satu jenis.

Cara pengendalian hama yang dikembangkan dalam pertanian organik dengan memanfaatkan pestisida biologi dan pestisida botani, antara lain menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.

Di samping itu, kandungan hormon tumbuh alami dalam pupuk kombinasi dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan hama. Demikian juga dengan kehadiran jamur Trichoderma dan Mikoriza dalam pupuk kombinasi mampu mengatasi beberapa jenis serangga hama dan patogen penyebab busuk akar, seperti Ganoderma pada tanaman sawit, Phytopthora pada kakao dan Fusarium yang menyerang banyak tanaman hortikultura.  Bahkan jamur Trichoderma berfungsi selain sebagai anti hama hayati juga berperan sebagai penyedia nutrisi alami untuk tanam. Demikian juga jamur Mikoriza  merupakan jamur yang sangat bermanfaaat untuk meningkatkan penyerapan unsur hara terutama  Phosphat, mampu menyimpan air dan juga berperan menahan patogen-patogen di akar.

 

Menghemat Biaya

Penggunaan pupuk  dan pestisida kimia pada lahan pertanian selama ini bukan saja menyebabkan kerusakan pada tanah, tapi dapat menambah beban produksi, karena mahalnya pupuk dan pestisida kimia. Penggunaan pupuk kombinasi dengan  memadukan  pupuk kompos/ pupuk organik membuat biaya yang dikeluarkan kebun jauh lebih kecil.

Penggunaan pupuk kombiansi dapat mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan pupuk kimia secara bertahap. Di samping itu penggunaan pestisida kimia pun harus ditiadakan, sehingga beban pekebun dan petani untuk pengadaan pupuk dan pestisida kimia dapat dikurangi hingga seratus persen.

Pertanian organik, adalah solusi tepat yang harus dikerjakan untuk memecahkan banyak masalah dalam pertanian dan perkebunan Kelapa Sawit. Paradigma pertanian harus dirubah secara radikal. Kita harus kembali pada konsep pertanian alami. Khususnya mengenai penggunaan pupuk dan pembasmi hama dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminialisasi sampai ke tingkat mendekati nol. Penggunaan pupuk harus dikembalikan lagi pada penggunaan pupuk kompos dan pupuk kombinasi secara bertahap.

Sistem pertanian yang berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi, dimana sangat memperhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan pasti akan menghasilkan kualitas yang baik bagi produk pertanian dan perkebunan  serta maupun menjaga keseimbangan lingkungan.

*) Owner dan Peneliti pada NATURA BioResearch dan praktisi pertanian organik

Biopestisida organik untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman


Brosur Natura Beva

NATURA Beva adalah agensia hayati ramah lingkungan yang efektif mengendalikan hama tanaman yang disebabkan oleh serangga Wereng Coklat, Wereng Hijau, Walang Sangit, Kepinding Tanah, Kutu Daun, Penghisap Buah dan Penggerek Buah.

Bahan Aktif

Mikroba aktif Beauvaria bassiana

Aplikasi

PADI

  • Kepinding Tanah (Scotinohora vermiculata)
  • Wereng Hijau (Nephotettix sp.)
  • Wereng Sangit (Leptocorisa accuta)
  • Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)

Cabe, Tomat, Terong, Kacang Panjang, Kedelai, tembakau, dll

  • Kutu Daun (Aphis sp.)

Kakao

  • Penghisap Buah (Helopeltis sp.)
  • Penggerek Buah (Canopomorpha cramerella)

Kopi

  • Penggerek Buah (Hypothenemus hampei)
  • Diatraea saccharalis (Lepidoptera: Crambidae)
  • Tetranyhus urticae (Acari: Tetranychidae)

Dosis Aplikasi

3 – 4 Kg/ Hektar

Petunjuk Penggunaan

  • Sebanyak 50 – 100 Gram NATURA Beva disuspensikan ke dalam 14 Liter air (1 tangki) .
  • Semprotkan langsung pada jasad/ hama sasaran. Untuk pencegahan, sebaiknya dilakukan penyemprot pada daun setiap 10 hari sekali selama musim tanam.
  • Bila perlu Disarankan menggunakan perekat untuk mengefektifkan penyemprotan.

NATURA Beva5 NATURA Beva4

NATURA Beva6NATURA Beva2

APLIKASI NATURA Riza dan NATURA Pupuk Hayati pada Tanaman SENGON


Sengon1

Aplikasi NATURA Riza Sebelum Penanaman SENGON/ JATI/ ALBASIA DLL.

  1. Siapkan lubang tanam ukuran minimal 30 x 30 cm dan kedalaman >35 cm. Masukkan campuran tanah dan kompos (1 : 2) sebanyak setengah bagian lubang tanam.
  2. Siapkan bibit SENGON unggul yang akan ditanam. Sebaiknya pada pembibitan SENGON sudah diaplikasikan dengan NATURA
  3. Masukkan 30 – 50 Gram NATURA Riza ke dalam lubang tanam. Usahakan taburan NATURA Riza akan menyentuh bagian ujung akar/ media tanam paling bawah di dalam polibag pada bibit SENGON.
  4. Letakkan bibit SENGON pada lubang tanah. Bagian akar diusahkan menyentuh atau berdekatan dengan serbuk NATURA Riza di dalam lubang tanam.
  5. Timbun lubang tanam dengan campuran tanah dan kompos hinggaa membuat gundukan.
  6. Lakukan penyiraman secara berkala sampai tanaman SENGON benar-benar tumbuh dengan baik.
  7. Aplikasi NATURA Riza cukup sekali selama masa tanam sampai penebangan.

Aplikasi NATURA Pupuk Hayati Setelah Penanaman SENGON/ JATI/ ALBASIA

  1. Larutkan minimal 2 sendok makan NATURA Pupuk Hayati dengan air bersih sebanyak 10 – 15 Liter. Aduk hingga merata.
  2. Siram suspensi NATURA Pupuk Hayati tersebut ke tanah dan pangkal batang hingga basah (sekitar 0,5 – 1 liter per tanaman).
  3. Lakukan pemupukan setiap 1 – 2 bulan sekali pada tahun pertama.
  4. Pemupukan dilakukan setiap 1 – 2 kali setahun pada tahun kedua dan seterusnya.
  5. Setelah tanaman SENGON berumur lebih dari 1 tahun, sebaiknya dibuatkan parit/ lubang sedalam 30 cm dengan lebar 30 cm mengelilingi batang SENGON. Jarak lubang dari batang mengikuti ujung tajuk daun paling luar.
  6. Lubang yang mengelilingi batang secara rutin dimasukkan kompos atau dedaunan yang jatuh untuk dijadikan kompos/ pupuk organik alami.
  7. Penyiraman NATURA Pupuk Hayati sebaiknya di lubang-lubang tersebut, sehingga lebih efektif penyerapannya ke dalam tanah.

Kebutuhan Pupuk NATURA

 Kebutuhan Pupuk per Hektar setiap Aplikasi :

1. NATURA Pupuk Hayati 2 botol
2. NATURA Dekomposer 1 botol
3. NATURA Riza 1 botol
4. NATURA Trico 1 botol
5. NATURA Meta 1 botol

Panen Padi 9,2 ton/ Hektar GKG pada Musim Pertama


DSCF1490Pada awalnya rata-rata hasil panen padi saya hanya 5 ton/ hektar. Pada tahun 2008, seorang rekan menyarankan menggunakan pupuk hayati NATURA dan kompos sebagai pupuk dasar.

Hasilnya sangat mengagetkan saya, tanaman padi saya lebih subur, berbeda dengan lahan sawah di sebelah saya yang tidak menggunakan pupuk NATURA. Anakan tanaman padi lebih banyak dan besar. Biasanya satu dapuran bisa saya pegang dengan satu tangan, tapi tanaman padi saya sekarang baru bisa setelah dua tangan saya memegangnya. Saya hitung anakan padi saya dalam satu dapuran berjumlah 83 batang.

Setelah panen, produksi padi meningkat menjadi 9,2 ton/ hektar. Setelah padi saya digiling dan menghasilkan beras, harganya menjadi meningkat hingga Rp 8.000,-/ kg.

Luar biasa untuk pupuk hayati NATURA yang bisa meningkatkan hasil panen padi saya dan harga berasnya pun menjadi lebih tinggi nilainya. Terima kasih NATURA.

Pupuk Kombinasi Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit


Oleh : Kabelan Kunia*

Artikel ini Telah Dimuat di Majalah SAWIT Indonesia, Edisi Khusus Bulan November 2014

Artikel Kabelan Kunia yang dimuat di Majalah SAWIT Indonesia Edisi November 2014

Artikel Kabelan Kunia yang dimuat di Majalah SAWIT Indonesia Edisi November 2014

Lebih dari 60% lahan perkebunan di pulau Sumatera telah mengalami degradasi kesuburan tanah (fisika, kimia dan biologi) yang diindikasikan oleh rendahnya kandungan bahan organik (di bawah 1%). Dampak dari rendahnya kandungan bahan organik ini antara lain tanah menjadi keras dan liat sehingga sulit diolah, respon terhadap pemupukan rendah, tidak responsif terhadap unsur hara tertentu, tanah menjadi masam, penggunaan air irigasi menjadi tidak efisien, meningkatnya patogen tanah seperti Ganoderma, serta produktivitas tanaman perkebunan cenderung rendah dan semakin sulit untuk ditingkatkan.

Hal ini disebabkan cara-cara pengelolaan lahan perkebunan yang kurang tepat, sehingga tanah semakin tandus sementara pemberian pupuk buatan yang terus menerus yang mengakibatkan lahan menjadi miskin akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta memburuknya sifat fisik lahan.

Bahan kimia kini sudah over digunakan untuk keperluan perkebunan, sehingga kondisi tanah yang digunakan kebun Kelapa Sawit tidak bertambah subur, tapi malah sebaliknya, tandus dan gersang. Akumulasi racun kimia saat ini sudah mengancam kelangsungan hidup mahluk di dalam dan permukaan tanah perkebunan. Tak hanya manusia saja yang kena imbasnya, tapi makhluk hidup yang lain juga kena getahnya.

Berdasarkan hal tersebut makin berkembang alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan secara perlahan menambahkan unsur-unsur organik dan mikroba menguntungkan ke lahan-lahan perkebunan dan pertanian agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi dan krisis pangan. Upaya pembudidayaan tanaman perkebunan dengan pola organik merupakan usaha guna mendapatkan bahan pangan tanpa unsur kimia berlebihan, ramah lingkungan dan sehat tentunya.

Hasil uji coba pupuk kimia dan pupuk organik, ternyata manfaatnya lebih banyak dihasilkan pupuk organik. Biaya produksinya lebih murah, penggunaanmya lebih sederhana, harganya pun terjangkau dan lebih penting dampaknya lebih berjangka panjang. Hal yang terpenting, pupuk organik dan hayati mampu menjaga keberadaan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi keseimbangan yang diharapkan.

Meningkatkan Aktivitas Mikroorganisme Tanah

Pupuk hayati biasanya mengandung mikroba ‘baik’ yang dapat mendegradasi bahan organik sehingga mampu menyediakan unsur hara yang dapat diserap tanaman dan menghasilkan enzim alami dan vitamin yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Pupuk hayati yang baik harus mengandung mikroorganisme lokal (indegenous) unggul. Setiap aplikasi pupuk hayati  akan meningkatkan populasi dan aktivitas mikroba  dalam tanah. Mikroba aktif yang terkandung dalam pupuk hayati seperti Azotobacter dan Azospirillum merupakan mikroba penting yang berfungsi menambat Nitrogen (N) bebas dari udara dan menghasilkan hormon tumbuh alami serta mampu menghasilkan asam amino; Bacillus yang merupakan bakteri yang memiliki fungsi melarutkan Phosphat (P) dan Kalium (K) dari ikatan koloid tanah, mengurai residu kimia dan mengikat logam berat; Lactobacillus, berperan menguraikan materi organik dan menyediakan hara mineral;  Aspergillus, merupakan jamur yang dapat mengikat Phosphat dan menghasilkan enzim, serta beberapa mikroba penting dalam menghasilkan asam amino, enzim alami dan vitamin serta menghasilkan zat patogen sebagai pestisida hayati seperti jamur Trichoderma dan Mikoriza.

Mikroba yang ditambahkan dalam tanah dapat membantu proses penggemburan tanah dan mengubah zat dan materi organik menjadi bentuk yang dapat diserap oleh tanaman. Penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan simbiosis mutualisme antara tanaman dan mikroorganisme yang menguntungkan. Semakin sering mengaplikasikan pupuk hayati  ke tanah menyebabkan tanah makin subur dan menyebabkan pemupukan menjadi hemat.

Pupuk terbaik semacam ini sudah banyak di pasaran dengan kemasan yang baik dan formulasi yang lengkap. Beberapa produk pupuk seperti Bioenzim dan Natura sudah mengandung formulasi mikroba aktif yang terbaik untuk meningkatkan kandungan mikroba unggul dalam tanah.

Bahkan sudah dikembangkan pupuk kombinasi kimia dan biologis yang berimbang dan unggul. Berdasarkan uji laboratorium Bioteknologi ITB, formulasi pupuk yang dikembangkan PT. Satya Agrindo Perkasa, yaitu NPK Hi-Grade plus OBH dengan penerapan teknologi produksi yang modern terbukti terbukti sudah menggabungkan nutrisi makro NPK yang berimbang dengan mikroba-mikroba terbaik untuk meningkatkan kesuburan dan keefektifan penyerapan nutrisi untuk tanaman, sehingga mampu meningkatkan produktivitas perkebunan secara bertahap.

Alhasil pupuk yang mengkombinasikan nutrisi berimbang  dan mikroba aktif akan menyebabkan tanah menjadi gembur. Tanah yang gembur akan memiliki pori-pori lebih banyak guna mensuplai nutrisi dan menyimpan air tanah untuk kebutuhan tanaman. Bahkan  saat musim kemarau sekalipun, tanah mampu menyediakan air. Sementara pada musim hujan, tanah bahkan mampu menahan air, sehingga resiko erosi dan banjir dapat dieliminir.

Meningkatkan Daya Tahan Tanaman

Pada dasarnya prinsip pengendalian hama dan penyakit dalam sistem pertanian organik adalah keterpaduan yang lebih menekankan aspek keseimbangan alam. Ketika agroekosistem berhasil dikelola secara seimbang, maka ongkos pengendalian menjadi lebih murah. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida kimia yang hanya satu jenis.

Cara pengendalian hama yang dikembangkan dalam pertanian organik dengan memanfaatkan pestisida biologi dan pestisida botani, antara lain menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.

Di samping itu, kandungan hormon tumbuh alami dalam pupuk kombinasi dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan hama. Demikian juga dengan kehadiran jamur Trichoderma dan Mikoriza dalam pupuk kombinasi mampu mengatasi beberapa jenis serangga hama dan patogen penyebab busuk akar, seperti Ganoderma pada tanaman sawit, Phytopthora pada kakao dan Fusarium yang menyerang banyak tanaman hortikultura.  Bahkan jamur Trichoderma berfungsi selain sebagai anti hama hayati juga berperan sebagai penyedia nutrisi alami untuk tanam. Demikian juga jamur Mikoriza  merupakan jamur yang sangat bermanfaaat untuk meningkatkan penyerapan unsur hara terutama  Phosphat, mampu menyimpan air dan juga berperan menahan patogen-patogen di akar.

Menghemat Biaya

Penggunaan pupuk  dan pestisida kimia pada lahan pertanian selama ini bukan saja menyebabkan kerusakan pada tanah, tapi dapat menambah beban produksi, karena mahalnya pupuk dan pestisida kimia. Penggunaan pupuk kombinasi dengan  memadukan  pupuk kompos/ pupuk organik membuat biaya yang dikeluarkan kebun jauh lebih kecil.

Penggunaan pupuk kombiansi dapat mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan pupuk kimia secara bertahap. Di samping itu penggunaan pestisida kimia pun harus ditiadakan, sehingga beban pekebun dan petani untuk pengadaan pupuk dan pestisida kimia dapat dikurangi hingga seratus persen.

Pertanian organik, adalah solusi tepat yang harus dikerjakan untuk memecahkan banyak masalah dalam pertanian dan perkebunan Kelapa Sawit. Paradigma pertanian harus dirubah secara radikal. Kita harus kembali pada konsep pertanian alami. Khususnya mengenai penggunaan pupuk dan pembasmi hama dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminialisasi sampai ke tingkat mendekati nol. Penggunaan pupuk harus dikembalikan lagi pada penggunaan pupuk kompos dan pupuk kombinasi secara bertahap.

Sistem pertanian yang berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi, dimana sangat memperhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan pasti akan menghasilkan kualitas yang baik bagi produk pertanian dan perkebunan  serta maupun menjaga keseimbangan lingkungan.

*) Peneliti pada NATURA BioResearch dan praktisi pertanian organik

NATURA Enzim Ternak Meningkatkan Produksi Broiler dan Sapi


Broiler1

Aplikasi pada Broiler

NATURA Enzim Ternak diproduksi dari hasil inovasi dan riset yang mendalam dari laboratorium Bioteknologi dengan pengaplikasian yang panjang di lapangan. Banyak peternak di daerah yang sudah memanfaatkan produk enzim ini untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kematian ternak sekaligus mampu mengefisienkan pemakaian pakan dan obat-obatan kimia yang biasa diberikan pada ternak peliharaan.

Photo Ayam 2

Atas: ayam Broiler yang dipelihara normal. Bawah: ayam Broiler yang diberi enzim NATURA

Pemberian enzim NATURA secara rutin sesuai petunjuk, memberikan dampak yang luar biasa terhadap performa ayam broiler selama pemeliharaan. Umumnya peternak merasakan manfaat yang berbeda dibandingkan sebelum pemberian enzim. Di awal pemberian, saat DOC sampai umur 15 hari, tingkat kematian bisa ditekan hingga 75%. Saat pemberian di umur 15 hari sampai panen, bobot broiler makin pesat, namun sebaliknya pemakaian pakan bisa ditekan secara signifikan. Tingkat penyerapan terhadap pakan menyebabkan efisiensi biaya produksi. Capaian FCR dan IP yang merupakan tolok ukur keberhasilan peternak, memberikan sinyal yang positif dan menggembirakan bagi peternak yang telah mengaplikasikan enzim NATURA.

100_1993

100_2004

NATURA di Tanaman Sawit – Pangkalan Bun


Karyawan memuat Buah Kelapa Sawit ke dalam Truk

Karyawan memuat Buah Kelapa Sawit ke dalam Truk

Sejak tanggal 23 – 26 Agustus 2014, tim NATURA berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah memenuhi undangan seorang teman. Beliau saat ini mendapat mandat sebagai manager di sebuah kebun kelapa sawit yang cukup luas dan makin berkembang di desa Runtu, Pangkalan Bun.

Begitu mendarat di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, kami langsung disambut hangat oleh Bapak Jerry, Manager kebun kelapa sawit yang kami kenal melalui Bapak Dudi. Setelah berkenalan, kami langsung diajak menaiki Kijang Kapsul yang disupiri oleh beliau langsung. Menurut beliau, lokasi kebun akan ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Kota Pangkalan Bun. Menjelang maghrib, kami masih dalam perjalanan menuju kebun. Tiba di kota kecamatan Runtu, persis di depan Polsek Runtu, kami mampir di sebuah warung nasi sederhana. Kami diajak untuk santap malam sebelum melanjutkan perjalanan yang tersisa kira-kira 30 menit lagi ke arah Pontianak. Meski sesaat diwarnai mati lampu PLN, yang menurut keterangan pak Jerry sangat lazim dialami di wilayah tersebut, entah karena sudah lapar atau karena ayam goreng dengan sambalnya yang enak atau karena nasi yang dihidangkan sangat pulen, nampaknya kami semua menyantapnya dengan sangat lahap dan rakus sekali.

Dalam kegelapan malam, kami melanjutkan perjalanan menembus belantara hutan sawit di kiri kanan jalan. Jalan cukup mulus, beraspal dan lebar sekali. Lebih kurang 30 menit berlalu, kami tiba di kebun kelapa sawit yang dituju. Diterangi lampu listrik dari pembangkit sederhana yang mengandalkan solar cell dengan memanfaatkan sinar matahari, kami berlabuh di mess tempat kediaman pak jerry dan beberapa stafnya di tengah-tengah kebun kelapa sawit.

Entah karena kelelahan karena perjalanan yang panjang, menjelang jam 11 malam kami tidur dengan pulas hingga subuh menjelang. Pagi nan cerah di tengah kebun, kami disuguhi segelas teh manis dan mie goreng berikut nasi panas. Menjelang siang, kami diajak pak Jerry mengelilingi kebun yang cukup luas. Mulai dari area pembibitan kelapa sawit, area kebun di atas rawa gambut, kantor cabang di tengah kebun sampai di area kebun produksi yang telah berumur 7 tahunan. Sore hari di hari Minggu ini kami juga mengikuti karyawan harian menaiki buah-buah sawit ke atas truk untuk diangkut ke pabrik pengolahan minyak sawit milik perusahaan Astra yang berlokasi tidak jauh dari areal kebun.

Hari yang melelahkan tapi sangat mengasikkan di tengah kebun kelapa sawit. Udara hutan yang sangat segar meski sesekali dikotori dengan debu-debu dari jalanan yang hanya dilapisi tanah liat merah di area kebun. Komunikasi ke luar pun sangat terbatas sekali. Sinyal Indosat cukup bagus di sini. Namun karena kami sebagian besar menggunakan Telkomsel, alhasil sinyal kembang kempis. Menjauh sedikit dari area mess, baru kami mendapat segaris atau dua garis sinyal. Meski demikian, kami sesekali masih bisa berkomunikasi dengan keluarga atau relasi di Bandung.

Pekebun sedang menyemprotkan pupuk NATURA ke pembibitan

Pekebun sedang menyemprotkan pupuk NATURA ke pembibitan

Presentasi produk NATURA di depan mandor dan karyawan perkebunan, dapat dilakukan di malam selasa seusai makan malam. Sharing dengan para mandor dan karyawan kebun sangat menarik. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk perbaikan produksi dan peningkatan kualitas tanaman kelapa sawit di kebun. Harapannya semoga kehadiran NATURA mampu memberikan hasil yang lebih baik untuk kebun dan staf/ krayawan kebun secara umum, semoga aamiin….(NATURA/ Pangkalan Bun (23-26/08/2014).

Kompos Tandan Kosong dan Limbah Kelapa Sawit ala NATURA


Peningkatan produksi pabrik kelapa sawit memiliki konsekuensi berupa peningkatan limbah kelapa sawit yang dihasilkan. Supaya limbah berupa TKKS yang jumlahnya sangat besar ini tidak menimbulkan permasalahan, maka diperlukan manajemen yang baik untuk mengelolanya. Salah satu alternatif cara pengelolaan TKKS adalah dengan melakukan pengomposan. Setelah dikomposkan, limbah berupa TKKS dapat digunakan sebagai pupuk organik.

botol natura decomposer3

Mengapa Menggunakan NATURA Organic Decomposer….?

NATURA Organic Decomposer mengandung mikroorganisme unggul dan enzim-enzim bermutu yang mampu medekomposisi bahan-bahan organik kompleks pada limbah padat kelapa sawit dengan cepat dan sempurna. Mikroba dan enzim dalam produk NATURA  Organic Decomposer  dapat mempercepat proses pengomposan, memperbaiki kualitas kompos, menyuburkan tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan unsur hara dan mineral tanah, mencegah penyakit akar, dan mengefektifkan penyerapan unsur hara.

Keuntungan penggunaan NATURA Organic Decomposer antara lain: mempercepat proses pengomposan, yaitu hanya 7 – 15 hari proses, mengandung tujuh jenis mikroba aktif (Bacillus sp., Cytopahaga sp.,  Streptomyces sp., Acetobacter sp., Aspergillus sp., Marimius sp., Trichoderma sp dan Yeast) yang berguna untuk mempercepat proses pengomposan, menambah kandungan N pada kompos jika kompos disimpan lebih lama, mengandung mikroba pemecah fosfor yang sangat berguna bagi tanaman, pemakaian lebih efisien serta dapat disimpan lama pada suhu kamar sampai 1 – 2 tahun.

100_3316

NATURA Organic Decomposer  tidak hanya mengandung mikroorganisme unggul yang mampu medekomposisi bahan organik kompleks pada limbah padat kelapa sawit tetapi juga mengandung beberapa enzim-enzim unggul seperti Selulase, Lignoselulase, Xylanae dan Protease yang mampu dengan cepat dan sempurna mendegradasi TKKS dan limbah padat/ cair serta bahan-bahan organik lainnya. NATURA Organic Decomposer juga mampu memperkaya dan meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan guna memperbaiki kesuburan tanah di areal perkebunan Kelapa Sawit. 

Menggunakan kompos dari limbah kelapa sawit akan sangat berguna meningkatkan produktivitas hasil panen buah kelapa sawit. Aplikasi kompos dibarengi dengan penyemprotan rutin pupuk hayati NATURA di pokok tanaman kelapa sawit di samping menyuburkan tanah, sekaligus mampu meningkatkan produksi buah sekaligus meningkatkan konsentrasi minyak dalam buah (NATURA/ Pangkalan Bun/ 25082014)

Produksi KOMPOS dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (NATURA Dekomposer Kompos)


PETUNJUK PEMBUATAN LARUTAN AKTIF NATURA Dekomposer Kompos

  • Larutkan 500 Gram NATURA Dekomposer Kompos ke dalam 1000 Liter air atau limbah cair pabrik pengolahan Kelapa Sawit (LCKS).
  • Apabila penggunaan suspensi NATURA DEC dalam jangka waktu yang lama hingga 10 hari, sebaiknya tambahkan NUTRIMIX sebanyak 2 kg dan aduk hingga merata.
  • Disarankan menggunakan aerator untuk memberikan suplai oksigen yang cukup ke dalam limbah dan NATURA Dekomposer Kompos.
  • Gunakan campuran larutan ini setelah minimal 24 jam untuk dicampurkan ke limbah padat (Tandan Kosong Kelapa Sawit dan blotong tebu) dalam proses pengomposan.
Pembuatan suspensi NATURA Organic Decomposer aktif

Pembuatan suspensi NATURA Organic Decomposer aktif

CARA MEMBUAT KOMPOS DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN NATURA Organic Decomposer 

  1. Limbah padat berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit dirajang/ dipotong kecil-kecil. Tambahkan limbah padat dan limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk memperkaya bahan kompos sehingga didapatkan CN Rasio 25 – 30.
  2. Semprotkan suspensi  aktif NATURA Organic Decomposer  sambil diaduk secara merata. Bila kurang air, tambahkan air hingga kondisi kelembaban 40%.
  3. Tutup bahan kompos dengan plastik/ terpal. Peram (inkubasi) bahan kompos sampai suhu mencapai meningkat.  Aduk dengan rata bahan setiap 3-5 hari. Kontrol panas/ suhu yang dihasilkan hingga >70 oC. Proses pengomposan berhasil jika suhu meningkat lebih dari 70 oc pada hari ke-3. Kemudian tutup plastik/ terpal dibuka sampai suhu pengomposan menurun sesuai dengan suhu lingkungan.
  4. Setelah 7 – 14 hari kompos matang dan siap digunakan di lahan/ kebun.
NATURA Organic Decomposer untuk menghasilkan kompos berkualitas

NATURA Organic Decomposer untuk menghasilkan kompos berkualitas

Ciri-ciri kompos yang baik :

  1. Warna coklat kehitaman
  2. Nilai C/N rasio ± 15 : 1
  3. Suhu sesuai dengan suhu tanah
  4. Aroma tanah alami
  5. Ukuran butir kompos beragam lebih baik
  6. Keasaman (pH) netral (6 – 8)

NATURA Enzim Akuakultur untuk Ikan Kerapu di Bali


NATURA Enzim Akuakultur merupakan produk pengembangan dari produk kami sebelumnya SOLAGRI 4. Produk ini merupakan enzim khusus untuk meningkatkan produktivitas budidaya perikanan. Enzim di dalam NATURA Akuakultur juga mampu mengefisienkan penyerapan terhadap pakan yang diberikan sekaligus mampu menekan serangan penyakit berbahaya pada ikan dan udang termasuk lobster.

1402561632430

Hasil penerapan produk NATURA Akuakultur di beberapa sentra perikanan di tanah air memberikan respon yang positif dan luar biasa. Di Singaraja Bali misalnya, produk ini digunakan juga untuk pengembangbiakan plankton sebagai makan utama larva ikan Kerapu. Sebelumnya, tanpa menggunakan enzim NATURA, budidaya plankton membutuhkan waktu tidak kurang dari 1 minggu, baru subur dan dapat diberikan ke larva ikan Kerapu di kolam pemeliharaan benih. Setelah pemberian NATURA Enzim Akuakultur, dalam tempo 3 hari saja plankton berkembang dengan cepat dan dapat segera diberikan ke larva ikan. Di samping lebih cepat pertumbuhannya, plankton juga tumbuh dengan subur menghijau.

Aplikasi Natura Akuakultur pada bak larva ikan Kerapu

Aplikasi Natura Akuakultur pada bak larva ikan Kerapu

Pemberian NATURA Enzim Akuakultur pada kolam larva ikan Kerapu hingga berukura 9 – 10 cm, responnya sangat positif. Larva lebih rakus makannya, perkembangbiakan lebih cepat dan larva dan benih tampak lebih sehat. Peternak berharap, NATURA Enzim Akuakultur juga mampu menekan penyakit ‘hitam’ yang banyak menyerang benih ikan Kerapu dan sangat merugikan peternak secara ekonomi.

IMG_20140811_202232

Keberhasilan penggunaan NATURA Enzim Akuakultur pada pembenihan ikan Kerapu di Singaraja memberikan harapan besar bagi peternak sekitarnya. Harapannya produk ini juga mampu diaplikasikan pada keramba ikan Kerapu di laut untuk pembesaran. Semoga harapan para peternak di sini membuahkan hasil, sehingga uji coba segera dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu dekat ini, semoga (NATURA/0514).

Teknologi Budidaya Padi Organik SRI – NATURA


Budidaya padi organik metode SRI – NATURA menghemat penggunaan air, bibit, pupuk dan pestisida kimia.

Faktor penting dalam penerapan metode SRI – NATURA di sawah adalah penggunaan pupuk kompos. Setiap hektar sawah membutuhkan minimal 8 ton kompos. Kompos dibuat oleh petani sendiri dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar, seperti kotoran hewan (KOHE), jerami, dedak padi, rumput, daun dan sampah rumah tangga. Proses pengomposan dilakukan selama musim pemeliharaan tanaman, yaitu 3-4 bulan dengan mengguanakan mikroba dekomposer unggul, NATURA Organic Decomposer.

Ketika musim tanam berikutnya, petani telah memiliki persediaan kompos yang cukup untuk ditaburi di lahan sawah sebagai pupuk dasar pengganti pupuk urea. Dalam sistem persawahan biasa, lahan lebih banyak digenangi air, akibatnya pasokan air yang cukup menjadi penting. Sebaliknya pada sistem SRI – NATURA, kebutuhan air diperlukan hanya setengah hingga sepertiga dari cara konvensional. Lahan sawah dikondisikan lembab atau macak-macak tanpa digenangi. Hal ini memungkinkan terjadinya penghematan penggunaan air sampai 60%.

Bibit tanaman padi yang digunakan adalah bibit yang berumur muda, yaitu antara 7 – 10 hari di persemaian. Kemudian bibit ditanam di lahan sawah dengan jumlah satu bibit untuk satu lubang tanam (dapuran). Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi persaingan atau kompetisi dalam mendapatkan hara makanan. Tanam bibit tunggal dan jarang dimaksudkan agar pertumbuhan padi menjadi maksimal, anakan yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan sehat. Rata-rata anakan yang dihasilkan lebih dari 60 batang. Pertumbuhan ini didukung dengan penyebaran akar yang luas, panjang dan kokoh, sehingga memungkinkan akar menyerap nutrisi secara efektif. Sistem ini mengakibatkan penggunaan bibit menjadi lebih sedikit. Untuk satu hektar sawah membutuhkan tidak lebih dari 7 kg benih.

Penggunaan pupuk kimia tambahan seperti urea, NPK, KCL dan ZA dalam metode SRI – NATURA bisa dihilangkan sama sekali. Karena kita tahu persis bahwa pupuk kimia inilah yang menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan tanah. Tanah menjadi tandus, sulit menyerap air, tidak respon terhadap unsur hara atau pemupukan, kebanyakan tanah menjadi keras, liat dan membatu. Sebagai gantinya, petani diajarkan membuat pupuk yang berbasis mikroba dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada, seperti buah maja, air kelapa, kotoran ternak, bekicot yang dihancurkan, daun-daunan atau sayur-sayuran. Hasil fermentasi alami dari bahan-bahan ini dapat disemprotkan setiap saat di lahan sawah.

Penggunaan pupuk hayati berbasis mikroba unggul, seperti NATURA, sangat dianjurkan untuk meningkatkan populasi mikroba ‘baik’ ke dalam tanah. Mikroba ‘baik’ ini yang akan menyiapkan nutrisi dalam tanah yang dimanfaatkan tanaman sebagai sumber makanannya. Kebutuhan hara makro dan mikro dalam tanah, sesungguhnya sangat terpenuhi dari ketersediaan kompos yang optimal.

Masalah hama dan penyakit tanaman pada padi dapat dicegah dengan cara pengendalian hama terpadu. Cara ini lebih kepada upaya mengendalikan berbagai unsur-unsur ekosistem di lahan sawah. Cara tanam SRI – NATURA dapat menekan gangguan hama secara sangat berarti tanpa harus menggunakan bahan kimia antihama. Sebagai langkah preventif, petani dapat menggunakan biopestisida NATURA Beva yang terbukti mampu menekan kehadiran hama di sawah petani.

Menurut pakar SRI dari ITB, Dr. Mubiar Purwasasmita, banyak jenis serangga yang hidup bersama dengan tumbuhnya tanaman padi, namun mereka tidak sempat menjadi hama karena dengan cara seksama kondisi mikro-klimatnya tidak memberi cukup waktu kepada serangga untuk dapat berkembangbiak secara leluasa. Serangan keong pun dapat ditekan karena tanah tidak direndam. Kegiatan pengendalian hama terpadu secara mandiri oleh petani memungkinkan terjadinya penghematan dalam penggunaan racun hama kimia.

Proses penyiangan dilakukan lebih dari 4 kali. Penyiangan ini dimaksudkan bukan saja untuk menghilangkan gulma tetapi terutama untuk menjaga pasokan udara ke dalam tanah. Pengurangan 1 kali penyiangan dapat menurunkan produksi padi hingga 1,2-1,5 ton/ha. Gulma di sawah adalah indikator kesuburan lahan. Gulma yang banyak dan subur, dibenamkan ke lahan sawah. Gulma yang terbenam akan menjadi sumber nutrisi bagi tanam. Proses penguraian yang cepat dalam tanah sangat dibantu oleh kehadiran mikroba dekomposer dalam tanah yang disumbang oleh NATURA Organic Decomposer.

Dalam metode SRI – NATURA bukan saja tingkat produktivitas padi yang tinggi dapat dicapai tetapi juga meningkatkan struktur dan kondisi lahan sawah serta membaiknya lingkungan hidup biotik di persawahan.

Melalui penerapan metode SRI – NATURA kita dapat melakukan perubahan untuk peningkatan produksi padi yang lebih tinggi, lebih baik mutunya, lebih sehat dan berkesinambungan, semoga. (Kabelan Kunia/NATURA/belankunia@yahoo.com)

 

Tips Beternak Bebek untuk Pemula ala NATURA


Itik1Bebek atau itik adalah hewan penurut, bahkan mereka bisa baris lho… Bebek mudah di ternakkan dan dipelihara. Banyak sekali sumber daya yang bisa kita ambil dari bebek ini, ada telurnya, dagingnya bahkan kotorannya bisa di jadikan pupuk. Penggemar daging dan telur bebek sekarang semakin banyak, karena rasa dari dagingnya yang sangat lezat. Telurnya pun bisa dibikin telur asin yang tak kalah lezat dengan dagingnya. Kebutuhan akan ketersediaan daging dan telur bebek ini sangatlah tinggi, nah inilah kesempatan Anda karena bisnis ini masih sangat potensial untuk dijalankan.

Umumnya usaha peternakan bebek ditujukan untuk bebek petelur. Namun peluang bebek pedaging juga bisa diambil dari bebek jantan atau bebek betina yang sudah lewat masa produksinya. Selain itu bisa juga pebisnis mengambil bagian pembibitan ternak bebek sebagai fokus usaha.

Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak bebek (5-8 minggu), pemeliharaan bebek Dara (umur 8-20 minggu ke atas) dan pemeliharaan bebek petelur (umur 20 minggu ke atas).

Masa produksi telur yang ideal adalah selama 1 tahun. Produksi telur rata-rata bebek lokal berkisar antara 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70 gram. Bahkan, bebek alabio memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu.

Itik2

Pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, dimana hasil sudah bisa dipetik dalam waktu 2-3 bulan. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada bebek betina. Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan bebek jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.

Hal yang terpenting dalam budidaya itik pedaging atau petelur adalah pemberian suplemen enzim. Pemberian enzim menjadi penting karena dapat meningkatkan produktivitas daging dan telur itik. Enzim sebenarnya diproduksi di dalam tubuh hewan ternak untuk menjalankan proses metabolisme dalam saluran cerna. Namun jumlah dan jenis enzim dalam tubuh ternak, relatif sedikit dan kurang efektif membantu proses pencernaan alias sangat standar. Untuk menghasilkan produk yang lebih baik, suplementasi enzim dari luar menjadi penting dilakukan.

Enzim ternakItik3 NATURA diberikan secara rutin setiap hari, pagi dan sore hari akan mampu meningkatkan nafsu makan bebek atau itik, mengurangi kematian bebek dan itik, dan mengefisiensikan penyerapan pakan menjadi daging dan telur. Berdasarkan pengalaman penerapan enzim ternak NATURA di peternakan bebek atau itik di beberapa wilayah di Indonesia, produktivitas meningkat minimal 35% pada setiap musim pemeliharaan (Kabelan Kunia/NATURA/naturabioriset@gmail.com).